Surat seorang jomblowati
Seiring hilangnya senja, aku tetap memikirkan tentang keberadaanmu.
Entah mengapa diri ini demikian merindui dirimu.
Diantara hamparan padang impian yang terbentang tak berjarak, hanya dibatasi oleh kedipan mata ini ketika terlelap.
Saat ini kuakhiri lagi rutinitas yang amat melelahkan. Perkuliahan yang penat dan segala aktivitas demi masa depan yang lebih baik membuatku ingin sedikit bersantai dengan menerawangmu sejenak. Dan malam ini ku berdoa kepada-Nya semoga semua ini bisa mengantarkan padamu yang kini telah terdampar diatas suratan takdirku, siapapun engkau… wahai yang akan menjadi imamku.
Entah kapan Dia akan mengijinkan aku jatuh cinta kepadamu, atau kau jatuh cinta kepadaku, sehingga kita bisa saling mencintai. Atau mungkin kita sudah saling kenal sebelumnya? Atau kau sesuatu yang baru bagiku? Atau jangan-jangan kita sudah pernah saling mencinta? Aku hanya berjalan menapaki garis-garis nasib yang setiap hari kujalani.
Oh iya, bagaimana kabarmu malam ini?
Semoga rembulan diluar sana menyaksikan kita yang saling merindu. Percayalah, disisiku kini hanya ada segenggam harapan tentangmu yang selalu kupegang dan tak pernah kulepas.
Hm.. Apakah ada yang mencoba menggodamu?
Pasti ada, syetan tak akan pernah membiarkan seorang muslim berjalan sendirian. Keadaanku disini sama, bahkan mungkin lebih parah. Semoga engkau tidak akan pernah merasa cemburu, karena memang belum saatnya. Sekali lagi, percayalah pada-Nya bahwa dia akan mempertemukan engkau untukku dan aku untukmu.
Entahlah… apa perasaan ini sudah pada tempatnya ataukah salah alamat. Aku hanya bisa meyakini satu hal, nurani itu tak akan pernah berdusta. Aku yang disini dan engkau yang disana pasti menginginkan pertemuan nanti hanya Dia yang mengatur. Tidak ada orang ketiga, atau pun keempat… hanya ada Dia diantara kita. Karena segala macam hubungan pasti akan berakhir kecuali hubungan karena Dia. Kita sama-sama berlindung dan berdoa kepada-Nya, semoga Dia bisa melebihkan kesabaran kepada kita dalam menanti saat-saat indah kebersamaan itu…
Bandung, 19 Agustus 2010